Hutan Kemaswaan yang tengah dilanda konflik kini sedang menjalani masa-masa tenang. Sudah beberapa hari ini tidak ada bentrok antar warga yang terjadi. Para petinggi hutan pun tidak ada yang terlihat akan membuat pergerakan. Mungkin ungkapan yang tepat untuk menggambarkan keadaan ini adalah tenang sebelum badai.
“Mau sampai kapan kita diam di sini?” tanya Rakael.
“Sampai ada sesuatu yang terjadi,” jawab Zetrael dengan santai.
“Kau pikir ini sudah berapa hari, hah!? Mau sampai kapan numpang di rumah orang!?”
“Berisik! Yang punya rumah saja tidak keberatan kok! Kenapa malah kau yang marah-marah!?” kata Zetrael sambil menunjuk ke arah dapur, dimana Aseptia sedang membuat makan siang.
“Kata siapa aku tidak keberatan?” balas Aseptia.
“Ups…” Zetrael terdiam.
“Apa kubilang?” kata Rakael sinis.
“Hahaha, tidak apa-apa kok, malah enak kalau ada banyak orang,” kata Asep sambil tertawa membawa beberapa porsi sup ke ruang tengah.
“Terima kasih,” kata Zetrael sambil mengambil semangkuk sup dari atas meja.
“Kenapa kalian betah tinggal disini?” tanya Aseptia yang penasaran.
“Entah, aku merasa akan ada sesuatu yang terjadi, hanya perasaaku saja sih,” jawab Zetrael.
“Mau sampai kapan menunggu sesuatu yang terjadi itu?” tanya Rakael.
“Sampai terjadi,” jawab Zetrael sedikit tertawa.
Mereka bertiga menikmati sup buatan Aseptia yang terdiri dari rempah-rempah dan jamur yang tumbuh di sekitar rumahnya.
———————————————————————————————————————
Para petinggi pemerintahan hutan tengah berkumpul di ruang rapat. Tidak ada rapat formal yang dijadwalkan, mereka berkumpul untuk membicarakan sesuatu yang hanya diketahui oleh mereka.
“Jadi, apa yang ingin Anda bicarakan, Balfau?” tanya Liandar membuka pembicaraan dalam forum itu.
“Tidak ada, saya cuma mau ngobrol-ngobrol saja dengan kalian,” jawab Balfau.
“Tentang?” timpal Arse.
“Jangan bilang tentang gerakan Gilper dan Andrew,” kata Nurcah.
“Ngomong-ngomong, apa kalian tahu ada tukang kebun dari kerajaan di utara yang jadi korban keganasan gunung Aroos?” tanya Liandar agak menyimpang dari topik yang mereka bicarakan.
“Tukang kebun? Tukang kebun macam apa yang mau-maunya naik gunung itu?” tanya Arse yang merasa aneh mendengarnya.
“Mungkin karena cinta, hahaha,” ledek Balfau.
“Ngomong-ngomong, kemarin saya melihat Sumar di dekat daerahnya,” kata Nurcah.
“Wah, sejak ada masalah dengan Agachan, dia sudah tidak pernah terlihat lagi dalam rapat besar, mungkin merasa tidakk enak? Hahaha,” kata Liandar agak meledek.
“Oke, kembali ke topik. Apa kalian tahu dengan siapa Gilper dan Andrew bergerak?” tanya Balfau.
“Kalau menurut intelku, mereka berdua dibantu oleh dua orang dari luar hutan ini. Yang satu namanya Herho, dari Negeri Seberang. Satu lagi bernama Gennady, asalnya belum diketahui,” kata Nurcah.
“Apa saja yang sudah mereka lakukan? tanya Arse.
“Belum ada,” jawab Nurcah.
“Saya curiga akan terjadi sesuatu yang besar di hutan ini,” ujar Liandar dengan wajah serius.
“Kalau mereka sudah mulai melakukan yang tidak-tidak, sudah saatnya kita turun tangan,” ujar Nurcah.
“Tidak perlu terburu-buru, biarkan saja dulu mereka, kita juga punya urusan yang harus diselesaikan,” ujar Balfau.
“Mungkin saja kejadian nanti akan mengubah hutan ini menjadi medan perang…”
———————————————————————————————————————
“Hei kawan, ada perkembangan?” tanya Andrew seketika sampai di tempat mereka sering berkumpul. Di sana ada Gilper dan Gennady yang sedang mendiskusikan apa yang akan mereka lakukan.
“Belum ada, kami masih mengumpulkan informasi yang dibutuhkan untuk rencana kita,” jawab Gilper.
“Sebenarnya bisa saja kita bergerak sekarang, tapi keadaannya tidak kondusif, orang-orang sedang tidak panas,” ujar Gennady sambil menyeruput kopi hitam.
“Mana teman kau yang satu itu? Tumben tidak terlihat,” tanya Andrew.
“Dia sedang berkeliling mencari informasi, kusuruh dia main-main dengan preman sekitar,” jawab Gennady.
Mereka bertiga memiliki rencana untuk mencapai tujuan mereka, membubarkan pemerintahan hutan Kemaswaan yang menurut mereka carut-marut. Sejak kedatangan Gennady dan Herho, rencana mereka makin memungkinkan untuk dilakukan. Mereka hanya menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan aksi mereka.
“Akhirnya datang juga yang ditunggu!” kata Gennady melihat Herho yang telah kembali setelah pergi sekian lama. Dia tidak pulang sendiri, tapi bersama dua orang lainnya.
“Siapa mereka?” tanya Gennady.
“Perkenalkan, ini Maghdavi, dan yang ini Laksa,” kata Herho sambil menunjuk mereka berdua. Dua orang itu berkenalan dengan Gennady.
“Jadi, apa kita sudah bisa bergerak?” tanya Gennady.
“Sudah bisa, tapi kita harus menunggu waktu yang tepat agar hasil yang kita inginkan tercapai,” kata Herho.
Andrew, Gilper, dan Gennady tersenyum licik, tandanya mereka sudah bisa bergerak untuk melakukan sesuatu yang akan mengubah hutan Kemaswaan. Herho dan dua temannya pun ikut tersenyum, entah apa alasannya. Mereka melanjutkan pembicaraan dengan obrolan-obrolan ringan menanti datangnya malam.
———————————————————————————————————————
Pada pagi hari setelahnya, seisi hutan dihebohkan oleh hancurnya beberapa tempat penting. Tempat-tempat itu dilumatkan dengan tanah, entah bagaimana pelakunya melakukannya. Aseptia, Zetrael, dan Rakael mendatangi salah satu tempat kejadian perkara yang tidak jauh dari rumah Aseptia.
“Perbuatan siapa ini…?” tanya Aseptia.
“Akhirnya dimulai ya…” ujar Zetrael dengan pelan.
“Apa yang dimulai?” tanya Rakael bingung.
“Apa lagi memangnya? Ngomong-ngomong, kau pernah bilang kan kalau kau sering bertemu dengan Gilper, dimana?” tanya Zetrael pada Aseptia.
“Di sebuah warung kopi yang tidak jauh dari sini, kenapa?”
“Orang ini memang cari masalah sepertinya.”
Tidak lama kemudian di warung kopi yang biasa didatangi Gilper dan kawan-kawan.
“Di sini kau toh… Rupanya memang benar kau,” kata Zetrael seketika dia melihat Gennady di sana.
“Sedang apa kau di sini?” tanya Gennady.
“Heh, jadi yang waktu itu kulihat memang kau toh,” kata Zetrael sambil mendatangi Gennady.
“Jadi, bagaimana kau mau mempertanggungjawabkan perbuatanmu ini?” tambahnya.
“Kenapa aku harus bertanggung jawab?” tanya Gennady sinis.
“Yah, bukannya aku tidak suka pengrusakan yang seperti itu, tapi pasti akan ada yang mengejarmu,” ujar Zetrael.
“Santai saja, aku bisa menjaga diriku sendiri, keh keh keh,” ujar Gennady dengan ketawanya yang khas.
“Baguslah kalau begitu,” kata Zetrael lalu meninggalkan tempat itu sambil tersenyum.
“Kenapa kau bisa akrab dengan orang itu?” tanya Herho kepada Gennady dengan wajah bingung.
“Wajar saja kok,” kata Gennady dengan senyum menakutkan.
Di luar, Zetrael yang berjalan ke rumah Aseptia berpapasan dengan beberapa orang yang berlari ke arah tempat dia bertemu Gennady. Dia hanya melihat nama salah satu dari orang-orang itu, yaitu Alabil. Mungkin semacam penjaga keamanan di hutan itu pikirnya. “Kubilang juga apa…”
“Dari mana tadi?” tanya Rakael.
“Bertemu seseorang. Mungkin sekarang dia sedang melakukan pemanasan,” jawab Zetrael dengan santai.
“Aku masih tidak mengerti kenapa orang-orang itu masih mau melakukan macam-macam, bukannya zaman mereka akan segera berakhir?” ujar Zetrael.
“Mungkin mereka ingin menutup zamannya dengan sesuatu yang luar biasa,” kata Rakael.
“Hei kalian, coba lihat di sana!” kata Aseptia sambil menunjuk ke beberapa orang yang berdiri di atas batu besar. Orang-orang itu adalah Liandar, Balfau, Nurcah, dan Arse.
“Siapa mereka? Petinggi hutan ini juga?” tanya Zetrael sambil mengernyitkan dahi.
“Iya. Sebentar lagi mereka akan berpidato. Bosan aku mendengarnya,” kata Asep.
“Selamat siang, kawan-kawan hutan Kemaswaan. Entah disadari atau tidak, kita hidup di dalam sistem yang dimana tidak dijalankan dengan baik. Bisa dibilang pemerintahan di hutan ini memang setengah matang. Tapi itu bukan berarti sistemnya yang salah! Orang-orang yang membuat sistem ini pasti sudah memikirkan banyak hal sehingga akhirnya sistem ini yang dipakai. Kurang berjalannya pemerintahan kita ini memang salah kita semua. Coba kita lihat dengan cara begini. Orang-orang yang ada di pemerintahan merupakan perwakilan dari tiap daerah. Kalau perwakilannya tidak becus, berarti warga daerah itu juga tidak becus karena memilihnya. Andaikan kita semua merasa memiliki hutan ini, kita semua pasti sudah menjaga kelangsungannya, bukannya memenuhi hari-hari dengan bentrok antar warga. Karena itulah, kami di sini meminta dukungan kawan-kawan sekalian untuk menumbuhkan kepedulian demi berjalannya pemerintahan di hutan ini. Terima kasih!”
Setelah itu, mereka pun pergi dengan tepuk tangan orang-orang sebagai penutup pidato tersebut. Orang-orang pun pergi dari tempat itu. Ketika tempat itu sudah hampir sepi, tiba-tiba terjadi ledakan.
“Datang juga…” kata Zetrael dengan wajah senang.
“Apa kalian masih percaya dengan perkataan orang tadi?” tanya seseorang yang berada di tengah kepulan asap.
“Tidakkah kalian berpikir, mau mengurusi hal kecil saja kalian sudah susah, bagaimana mau mengurus hal besar? Tidak habis pikir aku ini,” kata temannya.
Setelah asapnya berangsur menghilang, baru terlihat kalau dua orang itu adalah Gilper dan Andrew. Liandar, Balfau, Nurcah, dan Arse yang baru saja akan meninggalkan tempat itu mendatangi mereka untuk memberi salam.
“Lama sekali tidak terlihat, kemana saja?” tanya Liandar berbasa-basi.
“Kalau memang mau membubarkan, lakukan dengan benar lah, jangan setengah-setengah,” kata Balfau dengan nada bicaranya yang khas.
“Akhirnya kalian bergerak juga, kami sudah menunggu loh. Bagus juga cara kalian berdua datang,” ujar Arse sambil menepuk bahu Gilper.
“Toh tujuan kita sama, demi pemerintahan hutan Kemaswaan yang lebih baik, walaupun kalau dibubarkan sebenarnya masih riskan karena itu sama seperti taruhan, tidak ada yang tahu bagaimana ke depannya,” ujar Nurcah.
Gilper dan Andrew menanggapi basa-basi mereka sebelum akhirnya mereka berempat pergi dari sana. Setelah itu, Gilper dan Andrew melanjutkan pidato mereka.
“Karena itulah, kawan-kawan hutan Kemaswaan sekalian, mari kita membubarkan pemerintahan ini!”
Tiba-tiba beberapa orang datang ke tengah lapangan. Mereka datang seakan mereka adalah orang penting. Rakael terkejut melihat orang-orang itu, yakni Gennady, Herho, Maghdavi, dan Laksa.
“Herho… Laksa juga?”
“Kau kenal?”
“Aku pernah bertemu dengannya ketika berkelana ke sebuah negeri sebelum ke Goa Die Hard Pati,” jawab Rakael.
“Urusanmu dengan para penjaga keamanan itu sudah selesai?” tanya Zetrael pada Gennady.
“Sekarang aku ada di sini, menjawab?” balas Gennady dengan sombongnya.
“Jadi, kau setuju dengan ide pembubaran ini?” tanya Andrew pada Gennady. Gennady mengangguk.
“Tapi sepertinya orang-orang yang ada di sana akan mengganggu,” kata Gennady sambil menunjuk ke beberapa penjaga keamanan yang datang.
“Kita harus bagaimana sekarang?” tanya Rakael.
“Kita nikmati saja dulu. Kalau memang pantas untuk dicoba, kita coba saja!” jawab Zetrael.
Aseptia pun berjalan ke arah Gilper dan kawan-kawan.
“Akan kubantu kalian,” kata Aseptia. Mereka pun memasang kuda-kuda untuk menghadapai penjaga keamanan yang dipimpin oleh Alabil. Zetrael dan Rakael hanya duduk di kejauhan memantau jalannya pertarungan. Pertempuran ini akan mengubah hutan Kemaswaan dalam skala besar.
Climax!
Semakin lama semakin absurd ceritanya!
Tokoh-tokoh baru juga ada, mungkin bisa jadi bumbu cerita.
Chapter selanjutnya mungkin yang terakhir di hutan Kemaswaan, ganti setting lah~
Cerita ini fiksi!