If you can't enjoy life, what else you can enjoy? :)

"Satu hal dalam hidup yang harus kamu camkan benar-benar adalah kita tidak bisa membahagiakan semua orang. Tidak akan pernah bisa. Bahkan orang-orang baik pun, orang-orang mulia, tetap memiliki orang-orang yang tidak senang dengan keberadaan mereka."

- (via kuntawiaji)

(via arinaysays)

Source: kuntawiaji

"Berkemahasiswaan itu sama dengan sekolah, banyak yang bisa dipelajari dari sana."

- Budi P. Iskandar

Text

Jadi tadi siang gw sama Abu main-main ke WDA (Wakil Dekan Akademik) SAPPK buat nanyain soal jurnal ilmiah sebagai syarat kelulusan S1. Hasil dari ngobrol-ngobrol itu antara lain:

- Soal jurnal ilmiah memang sudah diwajibkan untuk yang lulus Oktober 2012, tapi dari bahasan WDA yang ketemu WR (Senin minggu lalu), jadinya di ITB bakal ada masa transisi sampai April 2013 untuk persiapan kurikulum baru dan standar untuk lulus adalah membuat ripositori (?) (semacam kumpulan abstrak) dan dipublikasikan online. Ini berlaku bagi mahasiswa yang akan lulus Juli ini. Tapi untuk substansinya baru akan dibahas minggu depan.

- Draft SK-nya sudah ada, tapi belum boleh dipublish.

- Dalam keberjalanannya, dikembalikan ke masing-masing prodi. Prodi yang sudah siap bisa saja mewajibkan mahasiswanya untuk membuat jurnal, jadi silahkan tanya ke prodi masing-masing.

Untuk sementara baru info ini saja yang bisa diberikan. Nanti akan di-update lagi.

Terima kasih.

"Hari Pendidikan Nasional diharapkan dapat menyadarkan kita kepada fakta bahwa pendidikan adalah aset bangsa ini untuk meningkatkan kesejahteraannya."

-

Zetra Iez Zaputra

19009100

Text

Hutan Kemaswaan yang tengah dilanda konflik kini sedang menjalani masa-masa tenang. Sudah beberapa hari ini tidak ada bentrok antar warga yang terjadi. Para petinggi hutan pun tidak ada yang terlihat akan membuat pergerakan. Mungkin ungkapan yang tepat untuk menggambarkan keadaan ini adalah tenang sebelum badai.

“Mau sampai kapan kita diam di sini?” tanya Rakael.

“Sampai ada sesuatu yang terjadi,” jawab Zetrael dengan santai.

“Kau pikir ini sudah berapa hari, hah!? Mau sampai kapan numpang di rumah orang!?”

“Berisik! Yang punya rumah saja tidak keberatan kok! Kenapa malah kau yang marah-marah!?” kata Zetrael sambil menunjuk ke arah dapur, dimana Aseptia sedang membuat makan siang.

“Kata siapa aku tidak keberatan?” balas Aseptia.

“Ups…” Zetrael terdiam.

“Apa kubilang?” kata Rakael sinis.

“Hahaha, tidak apa-apa kok, malah enak kalau ada banyak orang,” kata Asep sambil tertawa membawa beberapa porsi sup ke ruang tengah.

“Terima kasih,” kata Zetrael sambil mengambil semangkuk sup dari atas meja.

“Kenapa kalian betah tinggal disini?” tanya Aseptia yang penasaran.

“Entah, aku merasa akan ada sesuatu yang terjadi, hanya perasaaku saja sih,” jawab Zetrael.

“Mau sampai kapan menunggu sesuatu yang terjadi itu?” tanya Rakael.

“Sampai terjadi,” jawab Zetrael sedikit tertawa.

Mereka bertiga menikmati sup buatan Aseptia yang terdiri dari rempah-rempah dan jamur yang tumbuh di sekitar rumahnya.

———————————————————————————————————————

Para petinggi pemerintahan hutan tengah berkumpul di ruang rapat. Tidak ada rapat formal yang dijadwalkan, mereka berkumpul untuk membicarakan sesuatu yang hanya diketahui oleh mereka.

“Jadi, apa yang ingin Anda bicarakan, Balfau?” tanya Liandar membuka pembicaraan dalam forum itu.

“Tidak ada, saya cuma mau ngobrol-ngobrol saja dengan kalian,” jawab Balfau.

“Tentang?” timpal Arse.

“Jangan bilang tentang gerakan Gilper dan Andrew,” kata Nurcah.

“Ngomong-ngomong, apa kalian tahu ada tukang kebun dari kerajaan di utara yang jadi korban keganasan gunung Aroos?” tanya Liandar agak menyimpang dari topik yang mereka bicarakan.

“Tukang kebun? Tukang kebun macam apa yang mau-maunya naik gunung itu?” tanya Arse yang merasa aneh mendengarnya.

“Mungkin karena cinta, hahaha,” ledek Balfau.

“Ngomong-ngomong, kemarin saya melihat Sumar di dekat daerahnya,” kata Nurcah.

“Wah, sejak ada masalah dengan Agachan, dia sudah tidak pernah terlihat lagi dalam rapat besar, mungkin merasa tidakk enak? Hahaha,” kata Liandar agak meledek.

“Oke, kembali ke topik. Apa kalian tahu dengan siapa Gilper dan Andrew bergerak?” tanya Balfau.

“Kalau menurut intelku, mereka berdua dibantu oleh dua orang dari luar hutan ini. Yang satu namanya Herho, dari Negeri Seberang. Satu lagi bernama Gennady, asalnya belum diketahui,” kata Nurcah.

“Apa saja yang sudah mereka lakukan? tanya Arse.

“Belum ada,” jawab Nurcah.

“Saya curiga akan terjadi sesuatu yang besar di hutan ini,” ujar Liandar dengan wajah serius.

“Kalau mereka sudah mulai melakukan yang tidak-tidak, sudah saatnya kita turun tangan,” ujar Nurcah.

“Tidak perlu terburu-buru, biarkan saja dulu mereka, kita juga punya urusan yang harus diselesaikan,” ujar Balfau.

“Mungkin saja kejadian nanti akan mengubah hutan ini menjadi medan perang…”

———————————————————————————————————————

“Hei kawan, ada perkembangan?” tanya Andrew seketika sampai di tempat mereka sering berkumpul. Di sana ada Gilper dan Gennady yang sedang mendiskusikan apa yang akan mereka lakukan.

“Belum ada, kami masih mengumpulkan informasi yang dibutuhkan untuk rencana kita,” jawab Gilper.

“Sebenarnya bisa saja kita bergerak sekarang, tapi keadaannya tidak kondusif, orang-orang sedang tidak panas,” ujar Gennady sambil menyeruput kopi hitam.

“Mana teman kau yang satu itu? Tumben tidak terlihat,” tanya Andrew.

“Dia sedang berkeliling mencari informasi, kusuruh dia main-main dengan preman sekitar,” jawab Gennady.

Mereka bertiga memiliki rencana untuk mencapai tujuan mereka, membubarkan pemerintahan hutan Kemaswaan yang menurut mereka carut-marut. Sejak kedatangan Gennady dan Herho, rencana mereka makin memungkinkan untuk dilakukan. Mereka hanya menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan aksi mereka.

“Akhirnya datang juga yang ditunggu!” kata Gennady melihat Herho yang telah kembali setelah pergi sekian lama. Dia tidak pulang sendiri, tapi bersama dua orang lainnya.

“Siapa mereka?” tanya Gennady.

“Perkenalkan, ini Maghdavi, dan yang ini Laksa,” kata Herho sambil menunjuk mereka berdua. Dua orang itu berkenalan dengan Gennady.

“Jadi, apa kita sudah bisa bergerak?” tanya Gennady.

“Sudah bisa, tapi kita harus menunggu waktu yang tepat agar hasil yang kita inginkan tercapai,” kata Herho.

Andrew, Gilper, dan Gennady tersenyum licik, tandanya mereka sudah bisa bergerak untuk melakukan sesuatu yang akan mengubah hutan Kemaswaan. Herho dan dua temannya pun ikut tersenyum, entah apa alasannya. Mereka melanjutkan pembicaraan dengan obrolan-obrolan ringan menanti datangnya malam.

———————————————————————————————————————

Pada pagi hari setelahnya, seisi hutan dihebohkan oleh hancurnya beberapa tempat penting. Tempat-tempat itu dilumatkan dengan tanah, entah bagaimana pelakunya melakukannya. Aseptia, Zetrael, dan Rakael mendatangi salah satu tempat kejadian perkara yang tidak jauh dari rumah Aseptia.

“Perbuatan siapa ini…?” tanya Aseptia.

“Akhirnya dimulai ya…” ujar Zetrael dengan pelan.

“Apa yang dimulai?” tanya Rakael bingung.

“Apa lagi memangnya? Ngomong-ngomong, kau pernah bilang kan kalau kau sering bertemu dengan Gilper, dimana?” tanya Zetrael pada Aseptia.

“Di sebuah warung kopi yang tidak jauh dari sini, kenapa?”

“Orang ini memang cari masalah sepertinya.”

Tidak lama kemudian di warung kopi yang biasa didatangi Gilper dan kawan-kawan.

“Di sini kau toh… Rupanya memang benar kau,” kata Zetrael seketika dia melihat Gennady di sana.

“Sedang apa kau di sini?” tanya Gennady.

“Heh, jadi yang waktu itu kulihat memang kau toh,” kata Zetrael sambil mendatangi Gennady.

“Jadi, bagaimana kau mau mempertanggungjawabkan perbuatanmu ini?” tambahnya.

“Kenapa aku harus bertanggung jawab?” tanya Gennady sinis.

“Yah, bukannya aku tidak suka pengrusakan yang seperti itu, tapi pasti akan ada yang mengejarmu,” ujar Zetrael.

“Santai saja, aku bisa menjaga diriku sendiri, keh keh keh,” ujar Gennady dengan ketawanya yang khas.

“Baguslah kalau begitu,” kata Zetrael lalu meninggalkan tempat itu sambil tersenyum.

“Kenapa kau bisa akrab dengan orang itu?” tanya Herho kepada Gennady dengan wajah bingung.

“Wajar saja kok,” kata Gennady dengan senyum menakutkan.

Di luar, Zetrael yang berjalan ke rumah Aseptia berpapasan dengan beberapa orang yang berlari ke arah tempat dia bertemu Gennady. Dia hanya melihat nama salah satu dari orang-orang itu, yaitu Alabil. Mungkin semacam penjaga keamanan di hutan itu pikirnya. “Kubilang juga apa…”

“Dari mana tadi?” tanya Rakael.

“Bertemu seseorang. Mungkin sekarang dia sedang melakukan pemanasan,” jawab Zetrael dengan santai.

“Aku masih tidak mengerti kenapa orang-orang itu masih mau melakukan macam-macam, bukannya zaman mereka akan segera berakhir?” ujar Zetrael.

“Mungkin mereka ingin menutup zamannya dengan sesuatu yang luar biasa,” kata Rakael.

“Hei kalian, coba lihat di sana!” kata Aseptia sambil menunjuk ke beberapa orang yang berdiri di atas batu besar. Orang-orang itu adalah Liandar, Balfau, Nurcah, dan Arse.

“Siapa mereka? Petinggi hutan ini juga?” tanya Zetrael sambil mengernyitkan dahi.

“Iya. Sebentar lagi mereka akan berpidato. Bosan aku mendengarnya,” kata Asep.

“Selamat siang, kawan-kawan hutan Kemaswaan. Entah disadari atau tidak, kita hidup di dalam sistem yang dimana tidak dijalankan dengan baik. Bisa dibilang pemerintahan di hutan ini memang setengah matang. Tapi itu bukan berarti sistemnya yang salah! Orang-orang yang membuat sistem ini pasti sudah memikirkan banyak hal sehingga akhirnya sistem ini yang dipakai. Kurang berjalannya pemerintahan kita ini memang salah kita semua. Coba kita lihat dengan cara begini. Orang-orang yang ada di pemerintahan merupakan perwakilan dari tiap daerah. Kalau perwakilannya tidak becus, berarti warga daerah itu juga tidak becus karena memilihnya. Andaikan kita semua merasa memiliki hutan ini, kita semua pasti sudah menjaga kelangsungannya, bukannya memenuhi hari-hari dengan bentrok antar warga. Karena itulah, kami di sini meminta dukungan kawan-kawan sekalian untuk menumbuhkan kepedulian demi berjalannya pemerintahan di hutan ini. Terima kasih!”

Setelah itu, mereka pun pergi dengan tepuk tangan orang-orang sebagai penutup pidato tersebut. Orang-orang pun pergi dari tempat itu. Ketika tempat itu sudah hampir sepi, tiba-tiba terjadi ledakan.

“Datang juga…” kata Zetrael dengan wajah senang.

“Apa kalian masih percaya dengan perkataan orang tadi?” tanya seseorang yang berada di tengah kepulan asap.

“Tidakkah kalian berpikir, mau mengurusi hal kecil saja kalian sudah susah, bagaimana mau mengurus hal besar? Tidak habis pikir aku ini,” kata temannya.

Setelah asapnya berangsur menghilang, baru terlihat kalau dua orang itu adalah Gilper dan Andrew. Liandar, Balfau, Nurcah, dan Arse yang baru saja akan meninggalkan tempat itu mendatangi mereka untuk memberi salam.

“Lama sekali tidak terlihat, kemana saja?” tanya Liandar berbasa-basi.

“Kalau memang mau membubarkan, lakukan dengan benar lah, jangan setengah-setengah,” kata Balfau dengan nada bicaranya yang khas.

“Akhirnya kalian bergerak juga, kami sudah menunggu loh. Bagus juga cara kalian berdua datang,” ujar Arse sambil menepuk bahu Gilper.

“Toh tujuan kita sama, demi pemerintahan hutan Kemaswaan yang lebih baik, walaupun kalau dibubarkan sebenarnya masih riskan karena itu sama seperti taruhan, tidak ada yang tahu bagaimana ke depannya,” ujar Nurcah.

Gilper dan Andrew menanggapi basa-basi mereka sebelum akhirnya mereka berempat pergi dari sana. Setelah itu, Gilper dan Andrew melanjutkan pidato mereka.

“Karena itulah, kawan-kawan hutan Kemaswaan sekalian, mari kita membubarkan pemerintahan ini!”

Tiba-tiba beberapa orang datang ke tengah lapangan. Mereka datang seakan mereka adalah orang penting. Rakael terkejut melihat orang-orang itu, yakni Gennady, Herho, Maghdavi, dan Laksa.

“Herho… Laksa juga?”

“Kau kenal?”

“Aku pernah bertemu dengannya ketika berkelana ke sebuah negeri sebelum ke Goa Die Hard Pati,” jawab Rakael.

“Urusanmu dengan para penjaga keamanan itu sudah selesai?” tanya Zetrael pada Gennady.

“Sekarang aku ada di sini, menjawab?” balas Gennady dengan sombongnya.

“Jadi, kau setuju dengan ide pembubaran ini?” tanya Andrew pada Gennady. Gennady mengangguk.

“Tapi sepertinya orang-orang yang ada di sana akan mengganggu,” kata Gennady sambil menunjuk ke beberapa penjaga keamanan yang datang.

“Kita harus bagaimana sekarang?” tanya Rakael.

“Kita nikmati saja dulu. Kalau memang pantas untuk dicoba, kita coba saja!” jawab Zetrael.

Aseptia pun berjalan ke arah Gilper dan kawan-kawan.

“Akan kubantu kalian,” kata Aseptia. Mereka pun memasang kuda-kuda untuk menghadapai penjaga keamanan yang dipimpin oleh Alabil. Zetrael dan Rakael hanya duduk di kejauhan memantau jalannya pertarungan. Pertempuran ini akan mengubah hutan Kemaswaan dalam skala besar.

Climax!

Semakin lama semakin absurd ceritanya!

Tokoh-tokoh baru juga ada, mungkin bisa jadi bumbu cerita.

Chapter selanjutnya mungkin yang terakhir di hutan Kemaswaan, ganti setting lah~

Cerita ini fiksi!

"30 tahun lagi, pas kita ketemu, pasti aku main-main, kamu juga main-main, entah dimana main-mainnya."

- Gennady kepada Uruqhul

tantriw:

Waktu itu lagi iseng-iseng upload foto-foto ini ke suatu situs. Respon yang di kasih para pengunjung situ itu lumayan bagus terutama untuk foto yang di tengah. 1683 like untuk foto yang ada di tengah.

Makasih yah, untuk para model-model tak disengaja. ^^

DAFUQ! Pantes itu banyak like, ada Aswin Kumpa salah satu unholy trinity dan David Prado sang trapist.

Source: tantriw

Text

Jreng jreng, ini lanjutan cerita waktu itu~ silahkan dinikmati

Matahari bersinar terang, panasnya seakan membakar sampai ke tulang-tulang. Setidaknya itu yang dirasakan oleh Rakael dan Zetrael yang baru saja keluar dari Goa “Die Hard” Pati dan berjalan di atas gurun pasir. Tidak seperti orang-orang yang bertarung dengan mereka sebelumnya, mereka tidak bisa keluar dari goa itu dengan cepat. Setelah beberapa jam berputar-putar, akhirnya mereka melihat cahaya dari luar. Sialnya, ketika mereka keluar dari sana, matahari sedang bersinar terang. Tidak ada di antara mereka yang membawa air.

“Baru kali ini aku melihat ada pengembara sepertimu…” ujar Zetrael yang mandi keringat.

“Kenapa memangnya?” tanya Rakael yang juga terlihat kepanasan.

“Pengembara macam apa yang hanya bermodal celana dalam dan sedikit uang, hah!?”

Rakael merasa tersinggung dikatai seperti itu.

“Penghuni goa macam apa yang tidak hapal goanya sendiri!? Kau tinggal di goa bodoh itu selama beberapa tahun kan!?” balas Rakael sambil menunjuk pintu goa yang masih belum jauh.

“Aku tidak pernah keluar dari goa sejak kejadian itu, wajar saja kalau aku tidak tahu!”

“Huh!”

Mereka berdua terus berjalan sambil berpeluh keringat. Sesekali, mereka berhenti berjalan untuk beristirahat. Mereka membuka peta, dan melihat sebenarnya ada jalan yang lebih teduh, namun agak memutar, untuk mencapai Kerajaan Antah-berantah, yaitu melewati hutan Kemaswaan. Mereka berdua berdiskusi untuk mengambil jalan yang mana.

“Menurutmu, kita harus ambil jalan yang mana?” tanya Rakael.

“Lewat hutan saja, bisa mati dehidrasi lama-lama kalau begini terus,” jawab Zetrael sambil menunjuk hutan di peta.

“Tapi kalau kita lewat jalan ini terus, akan lebih cepat sampainya,” sanggah Rakael.

“Sebelum sampai, kita sudah mati kekeringan, mau begitu?”

Mereka berdua pun sepakat untuk mengambil jalan melewati hutan. Beberapa kali mereka berdua nyaris pingsan, saking lelahnya. Ketika malam tiba, mereka beristirahat di atas tumpukan batu karena tidur di atas pasir tidak terlihat seperti ide yang baik.

“Untung saja tidak ada rampok ya,” ujar Zetrael.

“Apa? Rampok? Kau pikir sekarang zaman apa? Hahaha,” kata Rakael geli.

“Serahkan barang-barang kalian!” teriak seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Orang itu menutup wajahnya dengan kain. Dia mengacungkan pedang ke arah Rakael dan Zetrael. Tipikal perampok yang mengancam sasaran kejahatannya.

“Zaman apa memangnya?” tanya Zetrael meledek sambil menatap Rakael dengan tatapan sinis.

“Eh itu… hehehe…” Rakael tertawa miris.

“Serahkan harta kalian! Cepat!” ancam si perampok sambil menggoyang-goyangkan pedangnya.

“Wah, maaf ya, kami sendiri juga tidak punya apa-apa untuk diberikan,” kata Zetrael.

“Atau kau mau celana dalam ini saja?” kata Rakael sambil mengeluarkan celana dalam cadangannya.

Perampok itu merasa tersinggung dan meneriaki mereka berdua. “Jangan macam-macam kalian! Beraninya kalian merendahkanku seperti itu! Kalian tidak lihat pedang ini bisa mengeluarkan isi perut kalian kalau aku mau!? Sekali lagi kalian…”

DUK!

“Berisik!”

Tiba-tiba Rakael sudah ada di belakang si perampok itu dan melumpuhkannya dengan memukul lehernya. Zetrael bertepuk tangan melihat aksi Rakael. “Hebat sekali!”

“Di zaman seperti ini masih ada perampok? Kuno sekali orang itu,” ujar Rakael kesal.

“Belum ada lima tahun kok sejak aku masuk ke goa, tidak mungkin banyak yang berubah kan?” kata Zetrael.

Setelah mengikat rampok itu dengan pakaiannya, mereka berdua pun kembali tidur.

——————————————————————————————————————-

Setelah cukup beristirahat, mereka berdua pun melanjutkan perjalanan mereka, meninggalkan si rampok dalam keadaan yang tak layak dideskripsikan. Hutan Kemaswaan sudah tidak jauh dari sana, secercah harapan tampak di wajah mereka.

“Eh, kalau tidak salah di hutan itu ada penduduknya kan?” tanya Zetrael yang baru ingat akan hal itu.

“Oh ya? Aku baru dengar,” jawab Rakael.

“Kira-kira seperti apa ya kehidupan orang-orang yang hidup di dalam hutan?”

“Mungkin lebih primitif dibandingkan orang-orang yang hidup di kerajaan.”

Setelah berjalan selama beberapa jam, akhirnya mereka sampai ke hutan yang dimaksud. Mereka berdua tampak senang. Mereka menyusuri hutan itu sampai dalam, mengagumi dan menikmati isi hutan itu.

Tiba-tiba terdengar suara ledakan.

“Kembang api?”

“Zetrael, lihat!” Rakael menunjuk sekumpulan orang yang berlari sambil berteriak seakan sedang berperang.

“Apa-apaan ini!? Perang!?” tanya Zetrael yang melihat sekumpulan orang dari arah lain.

“Kita harus mencari tempat aman!” ucap Rakael.

Orang-orang itu saling menyerang, seakan sedang berperang. Rakael dan Zetrael berlari mencari tempat yang aman. Beberapa kali ada batu yang nyaris menghantam mereka. Di tengah pelarian mereka, seorang perempuan menawarkan tempat untuk berlindung. Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah perempuan itu.

“Hah… hah… apa itu tadi?” tanya Rakael terengah-engah.

“Biasa, bentrok antar warga,” jawab perempuan itu sambil mengambilkan air minum untuk dua orang yang baru ditolongnya.

“Bentrok? Kenapa?” tanya Zetrael.

“Panjang ceritanya. Oh iya, kenalkan, namaku Aseptia. Kalian?” katanya sambil meletakkan dua gelas air.

“Zetrael.” jawabnya sambil mengambil gelas lalu meminumnya.

“Rakael.”

“Orang-orang dari tiap blok disini memang suka begitu. Karena alasan-alasan konyol seperti kebanggaan dan ingin terlihat kuat, mereka bentrok di hutan ini,” kata Aseptia memulai penjelasannya.

“Penduduk di hutan ini terbagi atas blok-blok, tiap blok memiliki satu orang perwakilan di dalam pemerintahan hutan ini. Pemerintahan hutan ini dipimpin oleh satu orang yang dipilih dengan musyawarah oleh perwakilan dari tiap blok,” kata Aseptia menjelaskan sistem pemerintahan di hutan Kemaswaan.

“Awalnya, pemerintahan itu berhasil membuat hutan ini lebih tenang. Namun tidak lama setelahnya, hutan kembali kacau seperti ini. Pemerintah dinilai tidak becus dalam menjalankan kewajibannya. Tidak, bahkan pemerintahan ini masih setengah jadi,” tambahnya.

“Lalu, adakah cara untuk memperbaiki keadaan di hutan ini?” tanya Zetrael.

“Sederhananya, untuk memperbaiki keadaan ini adalah kewajiban dari tiap penduduk hutan, bukan hanya mereka yang di atas saja,” jawab Aseptia.

“Kalau begitu, berarti penduduk di hutan ini memang masih primitif ya?” tanya Rakael.

Aseptia mengangguk.

Terdengar suara terompet di seluruh penjuru hutan.

“Apa itu?”

“Itu tanda kalau ada forum massa di tengah hutan,” jawab Aseptia.

“Tenang saja, bentrok tadi sudah selesai kok,” tambahnya.

Mereka bertiga pun beranjak dari rumah Aseptia. Seperti yang dia katakan, bentrok warga yang tadi mereka lihat sudah selesai, dan hanya menyisakan luka di pohon-pohon. Setelah berjalan beberapa menit, mereka sampai di pusat hutan. Banyak orang berdiri di sana, menunggu orang penting yang akan memberikan opininya di depan publik. Tidak lama kemudian, datang seseorang. Dia berdiri di atas batu besar dan langsung memberi salam kepada orang-orang.

“Siapa orang itu?” tanya Rakael.

“Ooh, dia Gilper, salah seorang petinggi hutan ini,” jawab Aseptia.

“Salam Kemaswaan, apa kabar kawan-kawan semua? Disini sekali lagi saya berdiri untuk mengajak kawan-kawan semua untuk mendukung saya membubarkan pemerintahan setengah matang ini! Kenapa? Karena, seperti yang kalian ketahui, tidak ada yang bisa mereka lakukan! Mereka hanya membuat sistem yang mereka sendiri susah untuk menjalaninya dan mereka menyuruh kita untuk mengikuti sistem itu! Sudah berapa tahun kita berada dalam keadaan ini? Mau sampai kapan kita begini? Ayo bergerak, ayo kita wujudkan mimpi untuk Kemaswaan yang lebih baik!”

Tepuk tangan menggelegar disana. Terlihat sekali orang-orang mendukung ide Gilper untuk membubarkan pemerintahan yang mereka anggap tidak baik. Gilper pergi dari sana dan seketika orang-orang pun bubar.

“Apa yang spesial dari pidatonya tadi?” tanya Zetrael.

“Orang-orang memang setuju dengan  idenya untuk membubarkan pemerintahan Kemaswaan,” jawab Aseptia.

“Setelah dibubarkan, apa yang akan dia lakukan?” tanya Rakael.

“Entahlah, dia pun belum memikirkan apa yang harus dilakukan setelahnya,” jawab Aseptia.

Mereka bertiga pun kembali ke rumah.

Sementara itu di sebuah ruang petinggi pemerintahan hutan Kemaswaan. Beberapa orang berkumpul di dalam ruangan itu untuk membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan kelangsungan hidup orang-orang di Kemaswaan.

“Heh, lagi-lagi dia melakukan itu,” kata Liandar sambil membaca laporan tentang kegiatan Gilper di hutan.

“Biarkan saja, dia tahu kok apa yang dia lakukan,” ujar Nurcah menanggapi Liandar sambil tersenyum.

“Kita juga punya gerakan sendiri kok,” timpal Balfau sambil tersenyum licik.

Orang-orang itu adalah beberapa petinggi hutan Kemaswaan. Cukup sering mereka berkumpul di sana bersama perwakilan blok-blok lainnya, hanya saja kali ini sedikit berbeda dari biasanya karena sang pimpinan, Agachan, memanggil mereka untuk membicarakan beberapa hal yang dianggap cukup serius.

“Jadi semua sudah berkumpul?” tanya Agachan. Ketiga orang itu pun menghentikan obrolan mereka.

“Jadi, kenapa kita dipanggil? Kenapa hanya kami bertiga?” tanya Liandar.

“Seperti yang kalian ketahui, untuk beberapa waktu ke depan aku akan meninggalkan hutan ini dan kalian sudah setuju untuk menunjuk Arse sebagai penggantiku. Sekarang aku ingin meninggalkan sedikit pesan kepada kalian,” jawab Agachan dengan wajah seriusnya.

“Apa itu?” tanya Nurcah.

“Pastikan ‘plebiscita’ terlaksana sesuai dengan yang kita bicarakan saat itu. Aku tidak ingin yang lain tahu, makanya hanya kalian yang kupanggil, mengerti?”

Ketiga orang itu pun mengangguk. Agachan tersenyum, lalu menyalami mereka bertiga sebelum akhirnya meninggalkan hutan untuk mengerjakan sesuatu di suatu tempat di luar sana. Arse yang tadi berdiri duduk di dekat tiga orang itu.

“Jadi, apa rencana kalian?” tanya Arse.

“Yaa, kami sih hanya melakukan sesuai dengan arahan yang diberikan Agachan saja. Tapi kita sama-sama tahu kalau kita sama-sama bosan dengan keadaan ini,” jawab Nurcah.

“Yang penting adalah bagaimana membuat rakyat mengerti apa tujuan dan bagaimana seharusnya pemerintahan Kemaswaan ini berjalan,” tambah Balfau.

“Untuk mereka yang senang cari masalah dengan kita, akan kutunjukkan kekuatan sebenarnya dari pemerintahan ini, selama ini kita terlalu banyak diam,” ujar Liandar.

Mereka berempat pun meninggalkan ruangan itu dengan wajah senang seakan mereka menemukan tantangan baru untuk diselesaikan. Ruangan itu pun kembali sepi.

Di lain tempat, Gilper mendatangi temannya yang juga petinggi hutan Kemaswaan, Andrew, di sebuah kedai kopi.

“Lama sekali kau datang,” kata Andrew yang melihat Gilper baru sampai ketika kopi di cangkirnya sudah kurang dari setengah.

“Haha, biasa lah, tadi ada sedikit diskusi dengan teman di blokku,” kata Gilper sambil menyalami Andrew.

“Bagus juga tadi kau punya cakap di depan orang banyak,” ledek Andrew sambil tertawa.

“Biasa saja kok, sama seperti yang kau dan teman-teman pemerintah lain lakukan,” kata Gilper merendah.

“Ngomong-ngomong, belum lama ini aku bertemu dengan orang yang menarik. Dia memang datang dari luar hutan, tapi aku yakin dia bisa membantu kau untuk membubarkan pemerintahan ini,” kata Andrew.

“Oh ya? Siapa?”

Andrew memanggil dua orang yang duduk tak jauh dari mereka. “Hei kalian, kemari sebentar, ada yang ingin berkenalan dengan kalian.”

Dua orang itu pun bangun dari tempat duduknya dan dikenalkan oleh Andrew kepada Gilper. Dua orang itu tidak lain adalah Gennady dan Herho.

“Salam kenal, kawan seperjuangan…”

Bersambung! Bakal dilanjutin kalo udah ada ide lagi!

Cerita ini makin lama makin absurd, itu pasti!

Ada yang notice nama-nama karakter di cerita ini? =))

Lanjutannya tetep fokus dengan hutan Kemaswaan yang primitif

Maaf belum ada gambarnya

Terima kasih sudah membaca

cerita ini fiksi!

Text

Oke, isi post kali ini kurang lebih adalah curhat. Bukan curhat sedih kok, curhat konyol isinya.

Jadi beberapa hari sebelumnya, gw berencana buat pulang ke Jakarta buat naro mobil di rumah dan kebetulan nganterin temen yang bakal ngasih sebuah box. Box apa? Ya gitu deh ya, pokoknya gw pengen boxnya. Setelah gw tanya-tanya, akhirnya gw ngeplot buat balik dari Bandung abis maghrib.

Ternyata eh ternyata, pada hari Jumat, 20 April 2012, ada field trip dari pagi sampe maghrib ke BSD. Sedikit pupuslah harapan gw buat pulang cepet. Karena field trip yang dibilang selesai maghrib bukan berarti pulang dari sana maghrib. Maka gw patokin lah baru jalan jam 11 malem dari Bandung.

Hari Jumat pun tiba. Gw bersama yang lain ikut field trip di BSD, seminar presentasi dari pendiri The Nanny’s Pavillon dan membawa pulang buku cerita serta papan menunya The Nanny’s, oiya, sama kaos juga. Pas nunggu balik, gw sama anak-anak Aloenesia (kelompok embrand gw) nongkrong di parkiran. Yang paling gw inget itu kami ngeliat ada motor jatoh. Pas ngeliat itu gw mikir, “apa itu pertanda?” dan lanjut ngobrol-ngobrol sama yang lain. Akhirnya kami baru balik ke Bandung jam setengah 8, dan sampai jam 11.

Sesampainya di kampus, gw langsung siap meluncur dan udah ngehubungin temen gw buat jalan. Malam itu hujan, tapi tidak terlalu deras, di daerah kampus, jadi gw masih tenang. Tapi pas nyampe Pasteur, hujannya bertambah deras. Petir menyambar nyaris sepanjang waktu. Lampu “genit” pun harus dinyalakan. Waktu itu hujan sangat deras hingga sulit melihat ke depan karena banyak air yang berseliweran di jalan. “Apa gw bakal selamat?” pikir gw waktu itu.

Setelah melewati sekitar 30 kilometer, akhirnya hujan mulai reda. Perasaan was-was mulai menghilang, gw pun menyetir dengan tenang. Jam menunjukkan pukul 23:45. Gw ngisi bensin di sebuah rest area di pinggir jalan sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan. Setelah jalannya sudah tidak basah, baru gw nyetir kebut, dengan kelajuan sebesar 100-130 km/h.

Ada hal konyol yang gw temui sepanjang perjalanan. Yang pertama, Avanza silver yang ditroll mobil bak. Awalnya di depan gw ada Avanza silver dan di depan Avanza silver itu ada mobil bak yang jalannya nggak terlalu cepet. Si Avanza silver itu ngambil jalur tengah, gw juga ikutan. Tau-tau di jalur tengah ada mobil box yang jalannya lebih pelan. Gw pun balik ngambil kanan. Si Avanza silver itu berhasil nyuruh mobil box itu minggir ke kiri. Pas doi nambah kecepatan, di depannya ada mobil box lainnya yang ngambil tengah, si Avanza silver itu pun memelankan laju kendaraannya lagi, sementara gw dan mobil pick-up di depan gw tambah cepet. Si Avanza silver itu pun ada di belakang gw sepanjang sekitar 40 km.

Karena mesti nganterin temen gw dulu ke Jati Bening, gw keluar di gerbang tol Bekasi Barat. Entah daerah mana itu gw nggak tau. Setelah sekian lama nyetir, akhirnya sampe juga di rumah temen gw. Daerahnya pedalaman parah, dan gw sempet nyasar. Pas keluar komplek, gw nyaris dihajar sama mobil yang lagi salip-salipan. Fyuh~ untung nggak nyerempet sedikitpun.

Setelah perjalanan selama 3 jam itu, akhirnya gw sampai di rumah. Sesampainya di rumah, gw beberes barang, dan karena belum ngantuk, gw menata gunpla yang baru gw bawa dari Bandung. Untuk menutup post ini, biarlah gw memberikan ucapan epic dari Efraldo.

Gw males kalo field trip kayak gini nggak ada report, tapi bukan berarti gw senang kalo ada.

  • Jadi, pada suatu hari gw sama Kuma ke Multi. Gw mau masukin proposal dan beli SRC, Kuma mau beli gashapon. Akhirnya dia milih gashapon KR Fourze, isinya semuanya rider kecuali Ankh.
  • Kuma: Yang mana aja boleh deh, asal bukan Ankh.
  • Zetra: Terus tiba-tiba dapet Ankh.
  • *puter*
  • *keluar satu capsule*
  • *isinya Ankh*
  • Zetra: Tuh kan dapet Ankh.
  • Kuma: Asal bukan Ankh, dapetnya Ankh. F*ck logic.